Selasa, 25 Agustus 2009

MENGENAL MALAYSIA

Banyak orang, yang sudah mengenal Malaysia, terutama dengan ikon andalannya Menara Kembar Petronas. Namun bagi banyak orang lain, terutama di luar Asia Tenggara, masih bertanya dimanakah Malaysia? Apa hubungannya dengan Indonesia? Bagaimana budayanya? Malaysia yang dikenal dengan Kerajaan Malaysia merupakan negara yang dihuni oleh rumpun Melayu, India, dan China. Tidak jelas bagaimana pengakuan Malaysia terhadap Suku Dayak dan beberapa suku asli lain yang mendiami Kalimantan dan Semenanjung Melayu. Namun demikian, Malaysia menampilkan suku-suku asli tersebut dalam iklan wisatanya dan keragaman budayanya dengan menyebut wilayahnya sebagai “Trully Asia”.
Malaysia adalah negara berbentuk kerajaan yang merupakan gabungan dari beberapa kerajaan di Semenanjung Malaya dan Kalimantan Utara, sehingga boleh dikatakan Malaysia merupakan negara federasi. Malaysia mendapat kemerdekaan dari Inggris dengan dibantu pejuang-pejuang dari Indonesia, terutama di Kalimantan. Itu sebabnya sampai sekarang, meskipun memakai nama, lambang negara, dan bendera sendiri, sampai sekarang Malaysia masih menjadi bagian dari Indonesia. Malaysia merupakan wilayah dengan sistem pemerintahan berbeda, namun sebenarnya menjadi bagian dari “Nusantara Indonesia” yang dikenal sebagai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Sistem pemerintahan yang kurang lebih setara dengan sistem yang dianut Negara Tiongkok terhadap Hongkong dan Taiwan.
Masuknya Malaysia sebagai bagian dari Nusantara Indonesia berawal dengan klaim Malaysia atas Sipadan dan Ligitan yang kemudian atas keputusan Mahkamah Internasional menjadi milik Malaysia. Sejak itu kapal perang Malaysia mulai ikut andil dalam menjaga perairan Indonesia dengan wilayah utama patroli di sekitar perairan Ambalat. Sebagai negara yang menjadi sub dari Indonesia, tentu menjadi kewajiban Malaysia membantu Indonesia dalam menjaga teritorialnya.
Tidak sampai disitu, PASKAL, sebuah pasukan khas angkatan laut Tentera Diraja Malaysia (TDM) juga memakai warna baret yang sama dengan warna baret Marinir Indonesia. Demikian juga dengan seragam TDM yang dibuat oleh sebuah perusahaan di Jawa Tengah, Indonesia. Termasuk beberapa pesawat patroli maritim yang dipakai dalam patroil laut Malaysia merupakan buatan dari Industri Pesawat Terbang Indonesia (PT.Dirgantara Indonesia). Belakang ada kabar bahwa sejumlah warga negara Indonesia juga direkrut oleh Malaysia untuk menjadi anggota Laskar Wathaniyah yang menjadi semacam milisi negara yang juga berbatasan dengan Brunei Darussalam tersebut.
Masuknya Malaysia sebagai bagian dari Indonesia, yang mungkin akan diusulkan sebagai provinsi ke-34 untuk Kalimantan Utara dan provinsi ke-35 untuk daerah yang berada di Semenanjung Malaya. Belum jelas rencana penamaan kedua provinsi itu dalam versi Indonesia, meskipun bagi Malaysia akan tetap memberi nama dengan negara bagian ataupun nama kerajaan yang sekarang tetap dipakai. Kemungkinannya kedua provinsi baru Indonesia itu akan dinamakan Provinsi Malaysia Timur dan Provinsi Malaysia Barat.
Rakyat dan Pemerintah Malaysia tampaknya bersukacita atas masuknya Malaysia ke dalam Nusantara Indonesia itu. Persiapan kearah itu nampaknya sudah dilakukan secara matang dan terencana. Dalam situs resmi Visit Malaysia misalnya, Lagu “Rasa Sayange” yang berasal dari Maluku telah menghiasi dengan penuh gempita. Demikian juga dengan pemasyarakatan Batik dan Wayang yang berasal dari Jawa itu telah disosialisasikan ke seluruh Malaysia dan dunia. Ini untuk lebih mengukuhkan bahwa budaya Malaysia adalah bagian dari Budaya Indonesia. Dengan terjadinya proses kulturisasi ini diharapkan bahwa warganegara Malaysia sudah merasa bahwa mereka adalah warganegara Indonesia.
Ini merupakan buah operasi intelijen melalui pengiriman sejumlah orang Indonesia ke Malaysia tahun 55 sampai 60-an yang dilakukan untuk memenangkan Melayu dalam Pilihan Raya di Malaysia. Malaysia yang dikenal sebagai negeri Melayu dihadapkan juga terhadap masalah rasial terutama dengan keturunan Tiongkok dan India. Masuknya Malaysia sebagai bagian dari Indonesia diharapkan dapat membantu mengatasi masalah ini, karena Indonesia yang didiami oleh banyak sekali suku bangsa itu dapat membentuk suatu bangsa besar di bawah semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya “Berbeda Itu Satu Itu” atau lebih tepatnya “Berbeda-beda tetapi Tetap Satu”.
Banyaknya Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia merupakan bentuk kerjasama yang luarbiasa. TKI yang pada awalnya diundang oleh Malaysia itu kini menjadi bukti keterikatan Malaysia kepada Indonesia. Meskipun beberapa pihak di Malaysia belum memahami sepenuhnya hal tersebut. Penyiksaan kepada TKI bukanlah hambatan besar bagi kedua negara. Adanya TKI yang disiksa di Malaysia hanya merupakan bukti bahwa masuknya Malaysia ke Indonesia akan menambah satu lagi tugas bagi Indonesia untuk mengajari rakyat di negeri itu tentang hak asasi manusia dan bagaimana memperlakukan pekerja dengan baik.
Ini tugas berat yang lain, selain bagaimana mengajari Malaysia untuk lebih kreatif menggunakan potensi budaya di daerah tersebut untuk menjadi kesenian khas yang dapat dipertontonkan dan bukan hanya menjiplak budaya Indonesia. Tugas demikian sudah dilakukan dengan baik oleh Indonesia di era 60-an, dengan mengirim sejumlah guru ke Malaysia dan menjadikan rakyat di negeri itu lebih pintar. Ditambah lagi dengan banyaknya mahasiswa dari Malaysia yang belajar di Indonesia yang kini memegang beberapa jabatan penting di Malaysia.
Penyatuan Malaysia ke dalam Nusantara Indonesia, juga dilakukan melalui musik. Angklung, alat musik khas Jawa Barat juga telah disosialisasikan oleh Malaysia sebagai musik asli Malaysia. Beberapa grup musik dan penyanyi Indonesia bahkan sangat populer di Malaysia. Ini tampaknya merupakan hasil pertukaran siara antara Televisi Malaysia (TVM) dan Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang diantaranya dilakukan melalui acara Titian Muhibah.
Sukses penyatuan Malaysia ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia kabarnya akan lebih merakyat di Malaysia. Sebab rendang, masakan khas Sumatera Barat, kabarnya juga akan dianggap sebagai Makanan Khas Malaysia. Demikian juga dengan isu yang rencana Malaysia mematenkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Melayu. Kabar-kabar ini menunjukkan bahwa penyatuan Malaysia ke dalam Indonesia merupakan keinginan yang kuat dari rakyat dan Pemerintah Malaysia. Termasuk bagaimana yang terakhir, tari pendet, juga dijadikan tari Malaysia.
Penyatuan inilah yang menjawab pertanyaan mengapa Noordin M. Top dan Dr. Azhari melakukan teror di Indonesia, bukan di daerah asalnya Malaysia. Kedua warga negara Malaysia itu menganggap Indonesia merupakan tanah airnya dan ini tampaknya juga disetujui oleh Kerajaan Malaysia. Sebab sampai saat ini tidak ada upaya-upaya serius dari Pemerintah Malaysia untuk menekan keluarga Noordin M. Top di Malaysia untuk meminta Noordin M.Top menyerahkan diri kepada Kepolisian di Indonesia. Kemungkinan hal ini tidak dilakukan Malaysia karena Malaysia ingin mensosialisasikan kepopuleran negeri itu di Indonesia. Siapa tahu Noordin M. Top mendapat tempat di hari rakyat Indonesia sebagaimana Siti Nurhalizah dan Sheila Majid. Tujuannya, agar rakyat Indonesia mau menerima Malaysia sebagai bagian dari Indonesia.
Tentu saja penyatuan Malaysia kembali dalam NKRI bukanlah hal yang baru. Sejarah masa lampau negeri itu menunjukkan bahwa wilayah Malaysia itu adalah bagian dari Nusantara Indonesia sebagaimana wilayah-wilayah tersebut menjadi wilayah taklukan Sriwijaya dan Majapahit. Dengan demikian, saat Malaysia mengklaim wilayahnya sebagai bagian dari Wilayah Republik Indonesia, seperti halnya klaim mereka atas budaya Indonesia, pemerintah dan rakyat Malaysia sedang mengakui betapa berdaulatnya Indonesia terhadap negeri itu. Mungkin Malaysia sudah bosan di ketiak Ratu Inggris dan raja-raja di Malaysia ingin diperlakukan sebagaimana raja-raja di Indonesia yang terhimpun dalam NKRI. Di sisi lain, ada kekaguman rakyat Malaysia atas heroiknya rakyat Indonesia yang berhasil mengusir kekuasaan Kerajaan Belanda, sementara rakyat Malaysia tak pernah menikmati kemerdekaan sejatinya. Mereka walaupun merdeka, tetapi masih terhimpit kekuasaan persemakmuran Inggris.
Kemajuan Ekonomi yang dicapai India dan China juga mengkhawatirkan Malaysia dimana dua etnis besar Malaysia yakni Cina dan India dikhawatirkan akan menguat dan mempengaruhi kekuatan etnis Melayu di Malaysia. Dengan menjadi bagian Indonesia, maka rakyat Malaysia sudah punya saudara melayu yang sebangsa dalam sebuah negara bernama Indonesia. Sedangkan di Indonesia etnis India dan China ternyata mendapat tempat terhormat dan tidak perlu merasa dianaktirikan oleh Pemerintah Indonesia sebagaimana mereka keluhkan dengan perlakuan Pemerintah Malaysia.
Akhirnya, kita ucapkan selamat kepada Kerajaan Malaysia yang dengan suka cita telah mempropagandakan budaya Indonesia ke seluruh dunia sebagai budaya Malaysia. Ini merupakan bukti pengakuan dari pemerintah dan rakyat Malaysia bahwa Malaysia adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bersatu Menambah Mutu ! Sayangnya, tidak ada informasi, kapan bendera Indonesia juga akan dikibarkan di seluruh Malaysia dan diumumkan ke seluruh dunia sebagai bendera Malaysia juga. Mungkin hal ini akan dilakukan Malaysia dalam waktu yang tidak lama lagi untuk lebih mengukuhkan dirinya sebagai bagian dari NKRI. Merdeka!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar